oleh

Nelayan Suka Maju dan Ana A’o Sekarat Dilarikan ke RSUD

-Hu-Krim-8.078 views

Warta Sidik — Simeulue

Di pesisir pantai Desa Air Pinang telah terjadi tindak kriminal, penganiayaan berat terhadap 5 (lima) orang nelayan yang berasal dari Desa Suka Maju, MULDALAMI (25), warga Desa Ana A’o ARMADA (52), warga Desa Ana A’o HAMDAN (30), warga Desa Ana A’o Harun Jamil (40), dan warga Pulau Banyak RUSMAN (45), Minggu, 29 November 2020 sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.

Kelima nelayan tersebut dalam 1 (satu) perahu (Robin) pergi melaut yaitu mencari tripang dan lobster disekitaran laut kawasan Simeulue Timur, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Para nelayan tersebut angkat jangkar dan hendak pulang ke arah Teluk Sinabang.

Baca juga:

Polres Cilegon Melalui Satgas Ops Aman Nusa II, Ingatkan Pengunjung Pantai Tentang Prokes Covid-19

Menurut keterangan para nelayan yang menjadi saksi kejadian perkara, menerangkan kepada WARTA SIDIK secara lugas dengan wajah yang masih trauma.

“Pada saat itu kami hendak pulang. Dan posisi kami dalam kawasan laut Desa Kualau Umo bukan Desa Air Pinang yang masih jauh dari tempat kami berada. Lalu tiba-tiba kami dikejar oleh 2 (dua) speed boat yang berkekuatan 40 PK,” kata Rusman.

“Mereka langsung mendekati perahu kami dengan sikap arogan seraya membentak menyuruh perahu kami merapat ke pantai di Desa Air Pinang, sehingga terpaksa perahu kami putar arah ikut kehendak mereka hingga sampai ditempatkan yang dituju. Sadisnya, sepanjang perjalanan dari tengah laut hingga ke pantai tak henti-hentinya mereka mencaci maki dan membentak kami dengan kata-kata sesuka hati mereka,” ungkapnya.

Nelayan Suka Maju dan Ana A’o Sekarat Dilarikan ke RSUD/ws

Saksi menjelaskan, bahwa mereka diperlakukan seumpama tawanan perang, dengan kasar dan tidak manusiawi. Bukan hanya dengan kata-kata saja, akan tetapi dibarengi dengan tindakan kasar dan pemukulan.

“Kawan kami, ARMADA warga Ana A’o mengalami cedera mata sebelah kiri akibat dihantam jangkar yang sengaja dilempar mereka arah kami pada saat mereka menggiring kami ke pantai,” jelas Rusman.

Rusman menceritakan, bahwa MULDALAMI warga Suka Maju, sesampainya di pantai dia langsung dipukul, ditendang, diseret dan diinjak hingga tak sadarkan diri. Dan setelah mereka puas melakukan penganiayaan terhadap mereka yang sudah tak berdaya. Kemudian para pelaku mengambil dan menyita semua barang-barang korban termasuk perahu dan peralatan yang ada didalamnya.

Baca juga:

Kapolda Jatim Silaturahmi di Ponpes Al Amien, KH. Anwar Iskandar: Kita Jaga Bersama Keutuhan Bangsa Dengan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila

“Selanjutnya kami dibawah ke rumah Panglima Laot setempat dan diinterogasi bak teroris yang baru ditangkap. Selama kami dalam sekapan mereka, kami benar-benar diperlakukan tak manusiawi kami tak dikasih makan bahkan HP kami semua disita agar tak menghubungi keluarga kami. Bila ada yang tanya mereka bersandiwara dan bikin banyak alasan, bahkan kami dibilang korban jatuh dari batang cengkeh kepada orang-orang yang bertanya,” tutup Rusman

Penyekapan ini berakhir sekitar pukul 08.00 WIB pagi, setelah ada pemberitahuan dari Kepala Desa Air Pinang ke Kepala Desa Suka Maju DAHLINUDIN yang merupakan ayah kandung dari MULDALAMI salah satu korban.

Setelah mengetahui keadaan dan keberadaan terutama putranya, DAHLINUDIN segera berangkat dan menjemput anaknya dan para nelayan lainnya. Dan kedatangannya bak seorang malaikat penyelamat bagi para nelayan yang menunggu pertolongan.

DAHLINUDIN, langsung membawa para korban ke RSUD Simeulue untuk mendapat perawatan, dari lima orang korban yang terparah dua orang yang harus masuk UGD.

Selaku ayah, hatinya sangat miris dan tidak terima melihat kondisi anaknya yang terkulai lemas di ruang UGD bahkan sempat tak sadarkan diri berjam-jam.

Sehingga dengan kejadian ini, DAHLINUDIN langsung membuat laporan ke pihak kepolisian. Dan Sat Reskrim Polres Simeulue segera melakukan visum terhadap korban guna untuk penyelidikan lebih lanjut. (eko)

News Feed