oleh

Kasus Penggelapan Dituntut 15 Bulan Penjara

Warta Sidik — Tangerang

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Subekti, SH, dari Kejaksaan Negeri Kota Tangerang, menuntut kurungan penjara 15 bulan kepada Herman Pora, anak Pora Suma, di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu (25/11).

Heman Pora, dinyatakan terbukti bersalah telah  menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja. Terdakwa (Herman Pora) telah terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar Pasal 374 KUHP. Terdakwa juga tidak membayar uang tagihan ke korban Johan Kosasih.

Baca juga:

Ciptakan Kondusifitas Wilayah, Danrem 162/WB Silaturahmi ke Masyarakat Karang Taliwang

Akibat perbuatannya itu, korban menderita kerugian sebanyak Rp. 73 juta. Adapun terdakwa sebelumnya berstatus karyawan dan digaji oleh korban.

Barang bukti berupa faktur penagihan dikembalikan ke saksi korban, Johan Kosasi.

Majelis Hakim, Arie Santio Ranjoko, SH, MH membacakan tuntutan JPU. Terdakwa juga dinyatakan telah menyalahgunakan jabatannya dalam perusahaan. “Kamu tanya sama pengacara kamu,” ujar Majelis Hakim Pengganti.

Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa dan penasehat hukumnya untuk mengajukan pembelaan.

Baca juga:

Apel Kasatwil, Kapolri Pecut Kapolda Tegaskan Prokes 

Hakim Ketua, Arie Santio Ranjoko menanyakan terdakwa dan penasehat hukumnya masalah pengajuan penangguhan terdakwa. Majelis hakim juga minta berkasnya dilengkapi.

Penasehat hukum terdakwa menjawab, bahwa berkas permohonan penangguhan penahanan sudah dimasukan dan sudah lengkap dari Rt/RW/Kelurahan.

Hakim ketua menanyakan jaminannya apa, uang apa orang. Dijawab oleh kuasa hukum terdakwa, orang. “Istri dan anak terdakwa jaminannya. Sekalian kami semua, penasehat hukum terdakwa ikut menjamin,” jawab Penasehat Hukum Terdakwa. Sidang kemudian ditunda sampai Rabu, 2 Desember 2020, untuk pembelaan terdakwa dan pengacaranya.

Sidang perkara penggelapan ini menyedot perhatian pengunjung sidang, karena penasehat hukum terdakwa pada sidang pekan lalu menuduh wartawan memvideokannya ketika sedang berbincang-bincang dengan panitera pengganti.

Dua wartawan sempat dimaki maki di ruang sidang oleh pengacara terdakwa. “Kamu ambil gambar video saya buat apa? Kamu enggak ijin sama saya, akan saya laporkan,” hardiknya.

Dia juga bahkan hendak merampas HP (handphone) milik salah satu wartawan. Ketika ditantang, “Kalau mau hapus gambar di hp saya, bayar dulu Rp. 10 juta,” kata wartawan itu. Pengacara ini cuma mampu menawar 100 ribu.

Tidak selesai di ruang sidang,  Pengacara berperawakan tinggi besar ini kemudian memanggil pasukannya, bahkan sopirnya pun disuruh panggil. Merasa malu, pengacara itu lalu keluar sidang sambil masih marah-marah. (Play/Dsw)

News Feed