oleh

Hakim Sakit, Sidang Kasus Narkoba Ditunda

Rika Sandria, seorang akademisi pada fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya serta magang Profesi pada Law Firm DSW & Partners/ws

Warta Sidik — PN Tangerang

Law Firm Dsw & Partners menyoroti due process of law tentang proses peradilan pada Pengadilan Negeri Tangerang menurutnya, apabila salah satu hakim majelis sakit maka dapat dibenarkan proses pemeriksaan ditunda, Senin (16/11).

Sidang kasus penyalahgunaan narkotika golongan satu, sabu sabu dan daun ganja yang menyeret anak orang no 2 di Kota Tangerang ini ditunda hakim anggota Sucipto, SH, MH.

Law Firm Dsw & Partners/ws

Sucipto, pada saat membuka sidang yang dihadiri jaksa penuntut umum pengganti, Adib, SH, dan Oktaviandi, SH, jaksa kejaksaan Kota Tangerang, menanyakan kesehatan 4 terdakwa, dan dijawab sehat.

“Agenda sidang hari ini mendengarkan 2 saksi ahli pidana dan saksi ahli dokter dari rumah sakit. Karena majelis hakimnya, R. Aji Suryo, SH, MH, sedang sakit maka sidang tidak bisa di lanjutkan, ditunda Senin depan,” ujar Sucipto SH, MH.

Baca juga:

Bupati Luwu Mengajak Forkopimda Studi Tiru MPP di Kota Pekanbaru

Kuasa hukum Akmal Sohairudin Jamil, Dede, Saryfudin dan Mohamadh Taufik atas kepemilikan sabu sabu satu klip bening seberat 0,51 gram, mengatakan, sabu sabu seberat 0,31 gram dan ganja 7,3 gram ditemukan di atas kasur yang tidak bisa dibantah para terdakwa oleh saksi polisi Riskiyono pekan lalu.

Senada disampaikan Kuasa hukum terdakwa Sri Afriani, SH, “Bahwa para terdakwa harus di rehab karena mereka korban,” ujar Sri usai sidang.

“Sesuai Undang Undang no 35 tahun 2009 tentang narkotika pengguna atau user adalah korban yang harus direhabilitasi,” ujar pengacara para terdakwa.

Demikian juga praktisi hukum, Badriyansah, SH, MH, menyampaikan, para terdakwa bisa direhabilitasi asal memenuhi unsure dan bisa membuktikan asesmen dari rumah sakit ketergantungan RSKO.

“Dalam pembuktian jaksa penuntut umum barang buktinya 0,51 gram, 0,31 gram dan ganja 7,3 gram sangat sulit karena banyak barang buktinya,” ujar dosen yang aktif di Posbakum pradin Pengadilan Negeri Tangerang.

“Ketika ditangkap, unsur salah satu terdakwa mentransfer uang ke salah satu terdakwa untuk beli sabu sabu seberat 1 gram seharga 1,6 juta. Unsur memberi, menyuruh, bersekongkol sudah terpenuhi,” ujar Badriyansah, SH, MH, yang biasa dipanggil bang bule ini.

Baca juga:

Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat Dicopot dari Jabatannya

Dalam hal ini lanjut bang bule, mentrasfer, memberi, menukar, ditukar membelanjakan, membeli, menguasai sudah cukup unsur memenuhi perbuatan melawan hukum berkesekongkolan jahat terhadap narkotika.

Dimana saat ini pemerintah sedang giat-giatnya dalam pemberantasan narkotika, dan perang terhadap narkotika.

“Para terdakwa justru terang-terangan mentarsfer uang untuk beli narkotika. Kepemufakatan jahat dalam undang undang narkotika sudah terpenuhi pasal 114,” ujar bang bule.

Seorang insan hukum yang sedang menyelesaikan akademisi pada fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya serta magang Profesi pada Law Firm DSW & Partners, Rika Sandria, menjelaskan, narkoba merupakan penyakit masyarakat atau pekat.

Bayu Ramadhan, Mahasiswa Fakultas Hukum Ubhara Jaya/ws

“Saya sangat setuju pemberantasannya melalui penegakan hukum. Namun demikian penyelesaian pekat ini yang merujuk pada permasalahan diatas terkait penyalahgunaan narkotika lebih cenderung untuk direhabilitasi,” kata Rika.

Bicara Rehabilitasi, ia memaparkan, Merujuk kepada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahguna, Korban Penyalahguna dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial. Selain itu juga turut diterbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 03 Tahun 2011 tentang Penempatan Korban Penyalahguna Narkotika di dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial, maka menurut hemat saya idealnya pelaku tindak pidana narkotika merupakan bagian dari korban yang harus di tolong, yang mana dalam hal ini adalah dengan cara Rehabilitasi”.

Demikian juga Bayu Ramadhan, ikut mengomentari yang disampaikan koleganya, Rika sandria, dan menurutnya, “Rehabilitasi solusi untuk para penyalahguna narkotika.” (DSW/rid)

News Feed