oleh

Bupati Malaka : Rakyat Tidak Boleh Lapar di Tanah Subur

Warta Sidik – Malaka

Di Kabupaten Malaka sesuai janji kami kepada rakyat bahwa rakyat tidak boleh lapar di daerah yang subur. Supaya tidak boleh lapar kami buat program yang bernama Revolusi Pertanian Malaka . Caranya sederhana, tanah-tanah rakyat yang oleh karena ketidak kemampuan rakyat untuk mengolahnya maka pemerintah turun tangan mengolahnya kemudian membimbingnya supaya rakyat tanam dan mereka berkelimpahan makanan. Program RPM solusi mengatasi kesulitan pangan rakyat. Hal itu disampaikan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran disela acara Natal bersama Gubernur NTT di Haitimuk, Rabu (26/12-2018)

” Hari ini sesuai penugasan yang diberikan rakyat Malaka yang telah dikukuhkan dengan pelantikan oleh bapak gubernur atas nama presiden RI tanggal 16 Februari 2016 . Hari ini saya telah bekerja sebagai seorang Bupati selama 1. 053 hari dari kontrak 1.827 hari dan masih tersisa 774 hari. Saya hitung mundur supaya lebih mudah mengetahui apa yang sudah dikerjakan untuk rakyat Malaka”.

“Kami sampaikan limpah terima kasih kepada Bapak Gubernur atas kehadirannya. Kami tahu bapak Gubernur memiliki misi yang besar supaya rakyat propinsi NTT hidup lebih baik sesuai motto pada saat kampanye yaitu kita bangkit kita sejahtera.
Kami mohon pada hari bahagia ini Bapak Gubernur bisa memberikan dukungan dan bimbingan supaya kami dapat melaksanakan tugas dengan baik”.

“Di Kabupaten Malaka sesuai janji kami kepada rakyat yang pertama, rakyat tidak boleh lapar di daerah yang subur. Supaya tidak boleh lapar kami buat program yang bernama Revolusi Pertanian Malaka . Caranya sederhana, tanah-tanah rakyat yang oleh karena ketidak kemampuan rakyat untuk mengolahnya maka pemerintah turun tangan mengolahnya kemudian membimbingnya supaya rakyat tanam dan mereka berkelimpahan makanan”.

Tahun ini kami produksi bawang merah 3000 ton. Banyak orang yang menamakan dirinya orang pintar marah sama Bupati kenapa produksi bawang begitu banyak sehingga harganya murah.
Lalu saya katakan kenapa harus marah-marah sama pemerintah tetapi kita harus marah sama diri kita masing-masing kenapa Malaka yang lahir tahun 1958 saat masih bergabung dengan Kabupaten Belu tidak menghasilkan produk seperti ini. Kenapa baru dua tahun terakhir kita hasilkan produk ini dan dulunya kemana saja. Ini yang harus kita persoalkan bukan persoalkan yang sudah ada tetapi yang dipersoalkan kenapa selama ini talenta yang ada dikubur”.

Tahun ini kami pacul tanah rakyat 3.200 ha dan sebagian sudah ditanam pada musim hujan tahun ini. Kami akan panen dengan alat pertanian modern. Untuk indonesia hanya ada dua Kabupaten yang menerapkan teknologi ini yakni Kabupaten Malaka dan salah satu kabupaten lainnya di wilayah Sumatera”.

” Saat ini kita masih membutuhkan traktor pengolahan lahan kering dan dari 127 desa di Malaka minimal satu desa memiliki satu traktor lahan kering.
Saat ini kami memiliki 57 traktor sehingga perlu ditambah karena musim pengolahan lahan hanya 3 bulan. Kami minta tambahan 5 buah traktor besar untuk memberikan pelayanan optimal bagi rakyat yang membutuhkan” ( boni/ Zack)

Komentar

News Feed